Tampilkan postingan dengan label OPINI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Pendidikan Seni Bergeser Arah Kiblatnya.

Dalam KTSP, pendidikan seni rupa menjadi bagian dari mata pelajaran Seni Budaya untuk SMP/MTs dan SMA/MA, dan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk SD/MI. Baik di SD/MI, SMP/MTs, maupun di SMA/MA mata pelajaran seni budaya diberi alokasi waktu dua jam pelajaran. Mata pelajaran Seni Budaya mencakup seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater.
Dalam Standar Isi disebutkan bahwa pendidikan seni budaya diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatannya bagi perkembangan peserta didik. Pendidikan seni didasarkan pada pendekatan “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Belajar dengan seni berarti bahwa dengan mempelajari seni, peserta didik dapat mengembangkan pengetahuannya di luar bidang seni. Dalam belajar melalui seni, peserta didik dapat mengembangkan pengetahuannya melalui berkreasi seni. Belajar tentang seni berarti bahwa peserta didik diharapkan dapat mengembangkan pengetahuannya tentang seni itu sendiri. Dengan demikian pembelajaran seni di sini dipandang sebagai metode belajar

Sabtu, 29 Oktober 2011

Pengelolaan Sekolah berbasis pendekatan Coaching




Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan serta mampu mewujudkan kompetensi tersebut dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai administrator, manajer, supervisor, dan seorang pemimpin (leader). Sebagai salah seorang manajer, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan mengelola dan mengembangkan sumber daya, bagi keefektifan sekolah.
Salah satu kegiatan pengelolaan sumber daya manusia adalah melalui strategi coaching. Coaching menjadi suatu kebutuhan di masa sekarang ini dan akan menjadi salah satu gaya kepemimpinan yang umum digunakan di masa depan. Terdapat banyak literatur yang mengupas tentang perlunya coaching dalam setiap organisasi, termasuk sekolah. Secara umum coaching adalah suatu bentuk pembimbingan antara personal yang satu dengan lainnya. Seorang kepala sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih untuk menjadi coach, menginspirasi dan memotivasi stafnya. 

Rabu, 26 Oktober 2011

Peran Komite Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Sekolah

Sekolah adalah sebuah pranata sosial yang bersistem, terdiri atas komponen-komponen yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. Komponen utama sekolah adalah siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, kurikulum, serta fasilitas pendidikan. Selain itu, pemangku kepentingan (stakeholder) juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini orangtua dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan yang harus dapat bekerja sama secara sinergis dengan sekolah.

Proses penyelenggaraan pendidikan kini menggunakan pola manajemen yang dikenal dengan manajemen berbasis sekolah (MBS), yang dalam aspek teknis edukatif dikenal dengan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Untuk itu, maka orangtua siswa, khususnya yang tergabung dalam Komite Sekolah juga harus memahami pola manajemen sekolah tersebut

Kamis, 16 Juni 2011

Contek massal produk dari Pendidikan Berbasis Hasil

Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh yang membantah terjadi kasus mencontek massal dalam Ujian Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) di SD Negeri Gadel II Surabaya Jawa TImur adalah pernyataan panik yang hanya untuk menepis lemahnya sistem pendidikan di Indonesia.
Pada saat kita lagi bersemangat menerapkan pendidikan karakter bangsa yang membentuk insan bertaqwa, bertanggungjawab, disiplin, jujur, sopan, kerja keras, dan sebagainya seakan membangun karakter bangsa melalui pendidikan hanyalah tontonan bukan tuntunan.

Kasus contek masal di SDN Gadel II Surabaya itu telah memakan korban dengan denjatuhkan sanksi tegas terhadap Kepala Sekolah Sukatman serta dua guru, yakni Fatchur Rohman yang juga wali kelas VIA dan Prayitno guru kelas VIB yang diturunkan pangkatnya. Selain itu Siami dan anaknya, Alif diusir dan dicacimaki oleh warga setempat.
Kasus ini sudah menjadi masalah nasional yang menjadikan Alif sebagai icon kejujuran, tapi disamping itu banyak orang yang meragukan terjadinya contek masal. Lepas pro dan kontra kasus ini fakta menunjukkan adanya kasus contek masal walaupun dari analisis jawaban soal telah disimpulkan tidak terbukti adanya contekan massal.

Selasa, 03 Mei 2011

Manajemen Pengembangan Sekolah Berbasis TIK

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan  bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan belajar itu, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran. Untuk bisa menciptakan kualitas pendidikan yang baik dan yang memenuhi persyaratan diatas diperlukan pengadaan teknologi yang tepat, dimana pendidikan yang tepat jatuh pada penggunaan alat pengolah data elektronik yang dalam kenyataan dan praktik berarti menggunakan komputer dengan semua sarana pendukungnya. Komputer merupakan pilihan yang paling tepat karena bisa menampilkan informasi dalam jumlah yang besar & bervariasi, mempunyai cara kerja yang cepat dan aplikasi informasi yang dihasilkan sangat beraneka ragam.
Dewasa ini dikenal paling sedikit tiga jenis jaringan, yaitu :
1. Jaringan yang bersifat setempat yang dikenal dengan istilah “Jaringan wilayah lokal ( Lokal Area Network-LAN).
2. Jaringan wilayah yang luas ( Wide Area Network – WAN )
3. Jaringan Wilayah kota metropolitan ( Metropolitan Area Network – MAN ).

Senin, 02 Mei 2011

Layanan Pendidikan Inklusif

Pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, nerilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.Jadi, melalui pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.

Kebijakan Pemerintah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus tertuang dalam Permen no : 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan penidikan, pada bab VII tentang Penyelengaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Adanya perubahan arah kebijakan penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus dari model pendidikan segregasi ke model pendidikan terpadu yang menempatkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah reguler. 

Anak berkebutuhan khusus pada dasarnya merupakan anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi dan fisik.  Ynag termasuk Anak berkebutuhan khusus ( ABK ) antara lain : tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan.  Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Selasa, 26 April 2011

Pengelolaan konflik untuk revitalisasi sekolah

Terbentuknya kultur sekolah yang baik dalam kerangka peningkatan kualitas pendidikan banyak ditentukan kemampuan kerja sama yang sinergis diantara elemen-elemen sekolah. Kerja sama yang baik dalam institusi dapat tercipta apabila terjadi gotong royong antar individu dalam mencapai tujuan bersama.
Hal ini terbukti bahwa dunia industri di Jepang lebih mengutamakan ”team work” yang cerdas untuk kerjasama menghasilkan suatu prestasi kerja dari pada kemampuan individu yang menonjol, tetapi tidak mampu bekerjasama.
Pada setiap institusi yang merupakan kumpulan banyak individu dengan karakter dan latar belakang yang berbeda-beda merupakan potensi konflik.
Konflik bisa terjadi secara vertikal antara atasan dengan bawahan maupun secara horisontal antar individu dalam level yang sama. Oleh karenanya pengelolan konflik sangat bermanfaat dalam organisasi atau institusi yang berpotensi konflik guna mendorong persaingan untuk meningkatkan motivasi kerja,meningkatkan kualitas institusi dan menciptakan organisasi yang sehat (organization heath).

Sabtu, 23 April 2011

Pembelajaran E-learning

Konsep dan model sekolah yang berbasis TIK merupakan perwujutan bagi peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu sekolah ini ditekankan pada pengembangan sarana, persiapan bahan pengajaran dan pelaksanaan kurikulum, pengembangan buku teks, peningkatan pelayanan penataran guru, peningkatan pembinaan guru, serta mengembangkan model pengembangan dan pelaksanaan manajemen SMA.

Pengelolaan sekolah untuk peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di SMA menuju sekolah yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan melalui penyelenggaraan pembelajaran yang bermutu, serta mendorong terwujudnya good governance dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan berbasis TIK guna mewujudkan peningkatan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Upaya mewujudkan sekolah berbasis TIK perlu melibatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas SDM baik untuk kepala sekolah, guru, karyawan, dan para siswanya agar memiliki kualitas dan kompetensi yang mampu berkompetisi di dunia nasional dan internasional.

Selasa, 19 April 2011

Pengembangan Budaya Sekolah

Budaya sekolah pada dasarnya merupakan norma-norma yang berlaku dan dilaksanakan oleh warga sekolah, yang mampu menumbuhkembangkan kesadaran diri , watak, ethos kerja, disiplin kerjasama, sikap pluralis dalamberbagai aspek kehidupan, kreativitas, produktivitas, kemampuan berfikir kritis, solidaritas, toleransi, dan daya saing anak didik.
Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.

Pengembangan budaya sekolah sangat ditentukan oleh lingkungan fisik, lingkungan sosial, nilai-nilai yang berkembang di sekolah dan keteladanan. Untuk membangun budaya sekolah sangat dipengaruhi pengembangan budaya fisik sekolah yang rapi, bersih, dan sejuk, serta lingkungan sosial yang damai , saling toleran tetapi disiplin dalam menegakkan aturan dan didukung dengan keteladanan kepala sekolah dan guru.

Senin, 18 April 2011

Menciptakan iklim sekolah yang sinergis dan harmonis

Bila anda mulai melangkah di pintu gerbang suatu sekolah di  banjarbaru, maka akan terbaca sebuah tulisan ” Sekolahku adalah rumahku “. Sekolah bagaikan rumah, tempat pembelajaran dalam kerangka menumbuhkembangkan siswa di bidang akademik, sosial dan emosional dengan perasaan aman, nyaman dan disiplin. Warga sekolah bebas dari rasa takut, kondusif untuk belajar dan  hubungan antar warga sekolah sinergis dan harmonis.
Selain konsep lingkungan sekolah bagaikan rumah juga iklim kenyamanan, yaitu menyangkut atmosfir, perasaan, lingkungan keseluruhan secara sosial dan emosional sekolah juga harus diciptakan secara positif.  Faktor yang mempengaruhi kenyamanan atau iklim sekolah ini adalah hubungan atau keterikatan antar warga sekolah, interaksi antar warga sekolah, rasa saling mempercayai dan saling menghargai antar warga sekolah.  Bila keadaan faktor-faktor tersebut tinggi maka semakin positif iklim sekolah tersebut.